Kegiatan buka puasa bersama (bukber) sering kali menjadi momen yang paling dinantikan oleh siswa SMAN 68 Jakarta untuk mempererat silaturahmi. Namun, di tahun 2026, tradisi ini mengalami transformasi besar melalui gerakan buka puasa bersama yang mengusung konsep zero waste. Menyadari tingginya timbulan sampah plastik dan sisa makanan selama bulan Ramadan, para siswa berinisiatif untuk menciptakan acara yang tidak hanya mengenyangkan perut, tetapi juga menjaga kelestarian alam. Gerakan ini membuktikan bahwa keceriaan berkumpul tidak harus dibayar mahal dengan rusaknya lingkungan sekitar.
Langkah utama dalam menerapkan buka puasa bersama yang ramah lingkungan adalah dengan mewajibkan setiap peserta membawa alat makan dan minum sendiri (tumbler dan reusable cutlery). Penggunaan kotak makan plastik sekali pakai atau styrofoam ditiadakan sepenuhnya di lingkungan sekolah. Selain mengurangi volume sampah di tempat pembuangan akhir, praktik ini juga mendidik siswa untuk memiliki tanggung jawab pribadi terhadap barang-barang yang mereka konsumsi. Kesederhanaan dalam penyajian makanan tanpa kemasan berlebihan justru membuat suasana bukber terasa lebih intim dan autentik, di mana fokus utama adalah kualitas interaksi antar-siswa, bukan kemewahan fasilitas yang merusak alam.
Manajemen sisa makanan juga menjadi perhatian serius dalam konsep buka puasa bersama di SMAN 68. Siswa diajak untuk mengambil makanan secukupnya sesuai kemampuan konsumsi mereka guna menghindari pembuangan makanan yang sia-sia (food waste). Jika terdapat kelebihan makanan, panitia telah bekerja sama dengan lembaga sosial untuk menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan secara higienis. Edukasi mengenai keberlanjutan ini sangat penting untuk membangun kesadaran bahwa rasa syukur dalam berpuasa seharusnya diwujudkan dengan tidak berbuat mubazir, yang merupakan nilai luhur dalam agama sekaligus prinsip ekologi modern.
Tren ini juga didorong oleh kampanye kreatif di media sosial sekolah yang menampilkan tutorial menyiapkan bukber minimalis. Siswa didorong untuk menggunakan bahan-bahan makanan lokal yang minim jejak karbon dalam hidangan mereka. Kampanye buka puasa bersama yang hijau ini mendapatkan dukungan penuh dari pihak sekolah dan orang tua, yang melihatnya sebagai bagian dari pembentukan karakter siswa yang peka terhadap isu global. Menjadi pribadi yang peduli lingkungan adalah bentuk ibadah nyata di masa kini, di mana bumi sedang menghadapi krisis iklim yang serius. Dengan memulai dari hal kecil seperti bukber, siswa sedang menyiapkan diri untuk menjadi pemimpin yang berwawasan ekologis.
