Hollandsch Inlandsche School: Pendidikan untuk Golongan Bangsawan

Hollandsch Inlandsche School (HIS) adalah sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak pribumi dari golongan bangsawan atau priyayi dan tokoh terkemuka. Sekolah ini didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai bagian dari politik etis. Tujuannya adalah untuk mendidik calon-calon pemimpin pribumi yang loyal kepada pemerintah kolonial, sebuah strategi yang sangat cerdik.

HIS memungkinkan anak-anak dari golongan bangsawan ini mendapatkan pendidikan dasar berbahasa Belanda. Pengetahuan bahasa Belanda ini sangat krusial, karena menjadi syarat utama untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, HIS adalah gerbang bagi priyayi untuk memasuki birokrasi kolonial dan mendapatkan posisi strategis.

Meskipun memberikan akses pendidikan yang lebih baik, HIS tetap membedakan hak pendidikan berdasarkan status sosial. Anak-anak pribumi dari golongan bangsawan diberi peluang besar, sementara anak-anak pribumi biasa tetap terpinggirkan. Sistem ini menciptakan stratifikasi sosial baru, di mana pendidikan menjadi penentu status seseorang di mata kolonial.

Perjuangan Ki Hajar Dewantara, yang mendirikan Perguruan Taman Siswa, adalah respons terhadap sistem pendidikan yang diskriminatif ini. Ia menolak pendidikan yang hanya dinikmati oleh golongan bangsawan. Ia berjuang agar semua anak, tanpa memandang latar belakang, bisa mendapatkan hak pendidikan yang berkualitas dan merata.

Setelah proklamasi kemerdekaan, sistem pendidikan yang berbasis kelas sosial ini dihapuskan. Indonesia membangun sistem pendidikan nasional yang inklusif, di mana sekolah dasar dapat diakses oleh semua anak. Ini adalah salah satu hasil perjuangan para pahlawan pendidikan yang ingin menciptakan masyarakat yang adil.

HIS adalah bagian dari sejarah pendidikan di Indonesia yang sarat akan ironi. Meskipun pendidikan yang diberikan berkualitas, tujuannya adalah untuk mempertahankan kekuasaan kolonial. Ini menunjukkan bagaimana pendidikan dapat digunakan sebagai alat politik, memecah belah masyarakat berdasarkan kelas sosial.

Sebelum fokus di dunia pendidikan, Ki Hajar Dewantara adalah seorang aktivis politik. Pengalamannya melawan kolonialisme membentuk pandangannya bahwa pendidikan harus membebaskan, bukan membelenggu. Ia berjuang agar pendidikan berakar pada kebudayaan nasional dan semboyan pendidikannya menjadi landasan kuat.

Pada akhirnya, HIS adalah cerminan dari sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif. Namun, sejarahnya juga menjadi pemicu bagi para pejuang untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih adil dan merata. Kita belajar bahwa golongan bangsawan atau bukan, setiap anak harus mendapatkan pendidikan yang sama.